One Day No Rice

17 Oct

Sepulang dari kampus, berhubung sudah lewat pukul 16.00 angkot gratis dalam kampus sudah tidak lagi beroperasi. Alhasil, berjalan kaki menjadi satu-satunya pilihan. Sembari berjalan bersama mahasiswa lainnya sambil menikmati suasana senja di sekitar kampus tercinta dengan udara yang berhembus begitu lembutnya. Dinikmati saja, pikirku.

Sampai di pintu gerbang depan Unpad, aku melihat sekumpulan mahasiswa yang terlihat seperti sedang berdemo dengan membawa spanduk, poster, pamflet, dan atribut lainnya. Sedang apa mereka, pikirku? Mereka yang berdiri beralmamaterkan hijau rupanya mahasiswa dari HIMA Fakultas Teknologi Industri Pangan sedang mengkampanyekan perihal diversifikasi bahan makanan, mengajak orang-orang dalam satu hari itu agar tidak mengkonsumsi nasi diganti dengan jenis karbohidrat yang lainnya, seperti ubi, kentang, roti, singkong, dll. Rupanya hari itu Hari Pangan Dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober. Aku baru mengetahuinya.  Semakin dekat semakin nyata, seorang mahasiswi memberiku selebaran pamflet yang berisi tulisan dengan judul besar “One Day No Rice”, satu hari tanpa nasi. Seingatku aku masih punya sepiring nasi untuk makan sore nanti. Jadi, agaknya tidak bisa kulaksanakan aksi ini. 🙂

Berbicara mengenai nasi yang terbuat dari beras memang tidak bisa dipungkiri bahwa orang Indonesia sangat ‘rakus’ dengan makanan yang satu ini. Tidak bisa dibilang ‘sudah makan’ kalau nasi belum masuk ke perut. Walaupun batagor, gorengan, mie bakso, sate, martabak, dan sebagainya sudah dilahap terlebih dahulu, tetap tidak lengkap tanpa nasi. Bukan ‘makan’ namanya kalau tidak dengan nasi, yang ada disebut ‘ngemil’. Aneh sekaligus unik. Padahal makanan berkalori tinggi semua. 🙂

Diversifikasi bahan pangan memang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan di masa yang akan datang. Peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan akan terus bertambah tentu akan menjadi isu yang harus diperhatikan. Terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dengan ketersediaan bahan makanan yang semakin terbatas. Apalagi saat ini areal sawah semakin berkurang, beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan, kadang mal atau resort sehingga masyarakat Indonesia khususnya harus mulai belajar untuk membiasakan diri hidup tanpa beras (nasi). Tapi, hal ini juga tidak mudah, perlu dilakukan publikasi dan sosialisasi yang terus menerus dilakukan oleh pihak-pihak terkait untuk memberi pemahaman baru bagi masyarakat banyak.

Akhirnya, ketergantungan kita terhadap nasi harus mulai dikurangi, tapi bisa tidak ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: