‘X’ SMS

23 Nov

“Assalamu’alaikum. Selamat pagi, semoga hari ini menyenangkan.”

Kubaca pesan singkat ini dan entah sudah yang  keberapa kalinya. Tanpa nama, tanpa identitas, hanya deretan nomor tertera di kotak masuk. “Siapakah gerangan?” pertanyaan ini yang selalu muncul dalam pikiranku. Satu per satu orang kucurigai. Orang-orang di masa lalukah yang melakukan ini. Teman-teman satu sekolah dasar dulu atau teman satu geng semasa SMP, atau musuh bebuyutanku si Wisnu, atau kakak senior kelas IX yang pernah kukagumi dulu. Ah, aku jadi uring-uringan tak tentu. Bayangkan, setiap hari sudah dua minggu terakhir ini, tepat pukul 3 pagi handphoneku berdering bak alarm saja. Mengganggu lelapnya tidurku saja. Dan saat kubuka, isinya kalimat yang sama dan seterusnya sama. Apa maksud sesungguhnya si pengirim pesan misterius itu, walaupun sebenarnya tidak ada masalah dengan isi pesan yang dia kirim padaku. Tapi tetap saja aku penasaran. Aku mencoba menghubungi via telepon tapi tak pernah diangkat. Huh, kurang kerjaan.

Ah…lebih baik aku tuntaskan tidurku kembali.

***

“As, ada apa dengan mukamu itu? Kelihatan sedang semrawut…Hihihi” tak kusadari Wita sudah duduk di sampingku. “Ah, kau ini mengagetkanku saja” gerutuku. “Habisnya, pas aku masuk kelas, mataku langsung tertuju padamu sahabatku yang lucu” seperti biasa basa-basi rayuannya padaku. Aku diam saja tak menanggapi. “Tidak biasanya kau tampak tak bergairah kawan. Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Benar bukan?” cerocosnya lagi-lagi. “Ehm…kira-kira begitulah.” Jawabku singkat. “Ceritakanlah padaku apa yang terjadi denganmu. Aku siap mendengarkan” pintanya padaku. “Nanti sehabis pulang sekolah aku ceritakan padamu” jawabku singkat. “Ok!” angguk Wita tanda setuju.

***

Itulah Wita, dia sahabatku dari sejak kecil. Kami berdua tinggal di satu komplek perumahan Bumi Asri daerah Cawang. Ayahku dan ayah Wita sudah berteman sejak lama. Mereka rekan kerja karena bekerja di kantor yang sama. Aku dan Wita bak perangko saja, kemana-mana selalu berdua, nempel terus. Dimana ada Wita disitu ada aku dan begitu pun sebaliknya. Namun kami memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya. Tapi meskipun begitu kami selalu akur.

***

Bel tanda kelas berakhir pun berbunyi. Aku dan Wita bergegas pulang. Tapi, seperti biasa setiap hari Rabu  kami menyempatkan diri untuk mampir ke warung Mpok Ratmi. Sambil menunggu pesanan dua gelas jus mangga, Wita pun mulai membuka percakapan lanjutan tadi pagi. “As, bukankah tadi pagi kau sudah berjanji akan bercerita padaku” Wita langsung menodongku dengan pertanyaan itu. “Hmmm…apa yang harus kuceritakan” jawabku dengan agak malas. Seorang wanita muda membawa pesanan dua gelas jus mangga datang menghampiri meja kami, dia adalah anak mpok Ratmi, si Ina. “Ayolah, tak biasanya kau begini, pelit membagi cerita” Wita kembali berceloteh. “Baiklah, akan kuceritakan. Hmmm…tapi aku merasa hal ini tidak begitu penting untuk dibahas, namun kurasa aku cukup terganggu dan penasaran” aku mulai membuka suara kembali. “Maksudmu?” tanya Wita sehabis meminum jus mangganya. “Begini sahabatku yang cerewet, sudah dua minggu ini setiap pukul 3 pagi dimana orang-orang masih terlelap dari tidurnya, termasuk aku sendiri, aku selalu dikejutkan dengan deringan handphone  yang ternyata kiriman sms yang isi pesannya selalu sama, dan yang membuatku bertanya-tanya siapa sesungguhnya pengirim sms itu”. “Memangnya isi pesannya apa As?” tanya Wita penasaran. “Sebenarnya isi pesannya biasa aja sih Wit” jawabku singkat. “Kayak gimana emangnya, jadi penasaran. Aku boleh baca kan isi smsnya”. “Nih, kau lihat aja” kutunjukkan hp milikku pada Wita. Wita hanya tersenyum simpul membaca pesan itu. “Ribet amat sih, udah deh tak usah kau pikirkan lagi. Lagian isi pesannya cuma gitu aja. Toh, tidak mengandung ancaman atau unsur SARA kan,” tanggapan Wita  padaku diiringi tawa gelinya, seolah dia mengejekku. Aku hanya mengangguk, tanda setuju. “As, kenapa tak kau hubungi saja nomor ini. Selesai kan,” cerocos Wita lagi. “Wit, itu udah kulakukan dari kemarin-kemarin kali. Tapi apa, tak ada jawaban atau pun balasan. Jadinya penasaran kan,” jawabku. “Saranku, ya sudahlah tak usah kau pikirkan siapa pengirim sms misterius ini. Kalau bukan orang iseng, ya barangkali pengagum rahasiamu As, hehe… Be positive thinking aja, Bu Elfa berkata begitu bukan?” Wita berusaha memberikan solusi. “Hmmm…Benar juga katamu Wit, ngapain juga dipikirin, toh masih banyak hal yang mesti kita pikirkan.” “Yups, itu baru sahabatku,” Wita kembali dengan basa-basi manisnya.

“As, pulang yuk, keburu turun hujan,” Wita berkata. Dan kami pun bergegas pulang. Tapi sebenarnya aku masih penasaran dengan pengirim sms itu. “Siapa dia?”

***

            Pukul 03.00 dini hari. Deringan handphone membuyarkan mimpi Astuti.

            “Assalamu’alaikum. Selamat pagi, semoga suatu saat kita bisa bertemu.”

***

(Fitri san no)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: