Stasiun Gerimis

23 Nov

“Kita bertemu di stasiun. Sekarang juga, secepatnya. Kita bertiga dengan kereta ekonomi pemberangkatan jam 14.39,” pemberitahuan yang terkesan tiba-tiba.

Belum sempat kuutarakan tujuan kedatanganku yang sesungguhnya kepada pasangan suami istri di hadapanku ini. “Ternyata aku harus pergi. Temanku tiba-tiba membuat perubahan. Terima kasih untuk jamuannya. Sungguh merepotkan. Maaf,” aku pun angkat bicara. “Siapa yang bilang merepotkan? Kenapa terburu-buru, baru juga sebentar kita ngobrol. Padahal aku masih ingin berbagi cerita denganmu,” jawab sahabatku. “Nanti seringlah main kesini, aku akan sangat senang jika kau berkunjung kembali. Lagipula, suamiku hanya datang seminggu sekali. Jadi, aku ada teman ngobrol,” sela sahabatku lagi. Lelaki di sebelahnya hanya ikut menimpali saja.

“Pak, stasiun ya.”

“Iya, neng.”

Segera saja angkot melaju dengan kencangnya. Hanya ada dua penumpang di dalam angkot. Aku dan seorang bapak paruh baya. Tapi kami saling berdiam diri. Aku mengira-ngira dimana stasiun itu berada. Maklum saja lumayan lupa karena sudah lama aku tidak kesana, bagaimana situasinya sekarang, dan adakah hal yang baru atau berbeda dengan tempat itu sekarang. Aku hanya mengingat-ngingat petunjuk yang diberitahu oleh teman satu kamarku. Rel, ya petunjuknya adalah rel yang melintasi jalan raya. “Turun saja di sisi kiri jalan, susuri jalan yang lurus ke arah kanan, ada belokan, terus saja jalan sampai akhirnya menemukan pintu stasiun dari arah belakang,” begitu temanku menjelaskan rute perjalanannya. Dan akhirnya tiba juga.

Rupanya cuaca tidak cukup cerah sore itu, mendung. Ketika berlari-lari kecil di jalanan berumput, setetes demi setetes hujan mulai turun. Dan bajuku mulai basah. Setelah sampai di pintu masuk stasiun, segera saja mencari tempat untuk berteduh. Ternyata sudah banyak orang disana. Ada yang berdiri, duduk, bersandar, melamun, mengobrol, dan aneka hal lainnya yang mereka kerjakan. Tapi satu hal yang sama, mereka sama-sama menunggu. Aku pun tak kalah sibuk dengan calon penumpang yang lainnya, sepasang mataku sibuk mencari-cari dua orang temanku.

Tiba-tiba, lambaian tangan di pemberhentian seberang menyingkirkan keresahanku. Akhirnya, aku menemukan mereka, pikirku. “Sudah lama menunggu?” tanyaku, “Ah, tidak. Kami juga baru sekitar lima menit sampai di stasiun. Baiklah, kita tunggu keretanya, sekitar sepuluh menit lagi tiba disini” jelas temanku.

Tidak ada yang berubah dari stasiun ini. Masih sama seperti ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Hanya saja ada sedikit yang hilang, sebuah kursi bercat cokelat keemasan yang terletak di sekitar barisan kursi tunggu jalur dua. Tidak ada. Di tempat itulah aku duduk cukup lama karena harus menunggu derasnya hujan yang turun mengguyur kala itu. Seseorang yang juga duduk di kursi yang sama membuka percakapan di senja itu. Menyebalkan sekaligus mengesankan. Ah, kenangan itu.

“Hei, jangan melamun!” tiba-tiba temanku mengagetkanku. “Bersiaplah, sebentar lagi kereta datang, kau kan tahu naik ekonomi harus sedikit kerja keras dan berdesakan jika ingin dapat tempat terbaik, hehe” temanku terkekeh dengan pernyataannya sendiri. Aku hanya mengangguk pelan.

Di stasiun masih gerimis. Ia malah mengundang apa yang tadinya sudah terlupakan.

(Fitri san no)

Advertisements

2 Responses to “Stasiun Gerimis”

  1. Dede Rohendi March 22, 2013 at 1:13 am #

    kalo ke garut naik kereta juga gak teh? di bayongbong ada stasion kereta api ga?

  2. nobiro117 March 25, 2013 at 4:17 am #

    kereta yang menuju garut paling berhenti di stasiun Cibatu aja, kalo k bayongbong mah lebih efisien pake elf…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: