Olahan 4

20 Dec

Sebelum berbagi resep ke-4, saatnya evaluasi masakan resep ke-3 :

  • Rasa masakan lumayan pas, enak sih menurutku, tidak terlalu asin dan tidak terlalu gurih. Lebih enak dimakan pas supnya masih hangat. Menu ini cocok juga untuk hidangan bagi yang sedang sakit.

  • Tingkat kematangan labu siamnya pas, cuma tumis bawang putih dan merah sedikit gosong.

  • Makanan habis tak bersisa di hari itu juga.

  • Porsi makanan cukup dan sesuai dengan jumlah orang dan waktu makan jadi Alhamdulillah tidak ada yang mubazir.

  • Cara penyajian makanan ada perbaikan.

Pelajaran yang bisa diambil :

  • Senantiasa bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan olehNya.

  • Cari tahu berbagai resep yang dapat diaplilasikan sesuai jenis dan karakter bahan makanan.

  • Mempertahankan jauh lebih sulit daripada memulai. Belajar konsisten.

  • Tangkap ide dan praktekkan.

  • Nikmati prosesnya dan berikan reward saat berhasil.

***

Yuk, lanjut ke *resep keempat. Here it is! (Kalau yang hidangan yang ini mah sudah tidak asing lagi, sepertinya semua orang pun pernah membuatnya).

TAHU PELANGI ala FITRI

Bahan-bahan :

Tahu kuning, wortel, buncis, telur puyuh, bawang merah, bawang putih, daun bawang, minyak goreng, bumbu penyedap rasa (aku pake R*yc* rasa ayam).

Cara memasak :

  • Wortel dan buncis dipotong-potong dengan ukuran kecil kemudian dicuci, setelah itu direndam di dalam mangkok dengan air hangat. Buang airnya dan tiriskan.

  • Tahu kuning dicuci, kemudian dihancurkan sampai lembut dengan menggunakan garpu (dengan tangan juga boleh asal bersih).

  • Bawang merah, bawang putih, dan daun bawang diiris sesuai keinginan.

  • Siapkan minyak goreng secukupnya untuk menumis bawang merah dan bawang putih. Lalu tambahkan telur puyuh, dibikin orak arik telur.

  • Setelah baunya harum, masukkan tahu kuning yang sudah dihancurkan. Aduk-aduk hingga tercampur, lalu masukkan wortel dan buncis yang telah diiris kecil-kecil. Aduk terus hingga tercampur. Supaya wortel dan buncis agak lunak maka tutup wajan dengan penutup beberapa menit (metode uap). Bisa diulangi beberapa kali jika belum lunak.

  • Dan terakhir tambahkan daun bawang juga bumbu penyedap rasa sesuai selera. Aduk hingga merata dan bumbu meresap.

  • Angkat dan sajikan saat hangat bersama nasi putih.

Mudah dan praktis bukan? Hemat dompet pula. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

***

Bagiku, hidangan yang kuberi nama ‘Tahu Pelangi’ ini bukan hanya sekedar bernilai masakan saja namun ada nilai historis di balik itu semua. Nama ‘Tahu Pelangi’ ini mulai kukenal saat aku berstatus sebagai santri di PPI 76 Garut dimana aku harus tinggal di asrama putri bersama teman-teman lain dari berbagai daerah. Saat aku tinggal di asrama, kebutuhan makan sudah pasti terjamin. Aku makan tiga kali sehari dengan menu yang berbeda-beda. Namun, jangan membayangkan bahwa menu makanan di asrama itu mewah dan semuanya enak. Tapi yang pasti menu disini sudah diatur sedemikian rupa. Tiap hari, tiap minggu menunya berbeda dan akan berulang di bulan berikutnya, walaupun kadang ada perubahan-perubahan. Entah dari era siapa muncul penamaan-penamaan menu makanan di asrama putri yang kadang terdengar aneh dan kocak. Penamaan seperti, pindang bom, sayur kapsul, dan begitu juga ‘Tahu Pelangi’ ini. Menu ‘Tahu Pelangi’ ini biasanya disajikan di pagi hari saat sarapan. Jujur saja, aku cukup suka dengan menu ini. Tapi ada juga santri yang tidak suka dengan pilihan menu yang disajikan oleh dapur asrama. Hal yang kuingat saat di asrama adalah dua momen yang selalu ditunggu-tunggu olehku karena inilah momen dimana menu makanan yang pastinya berbeda dan agak terkesan ‘wah’ buatku adalah :

Pertama, tiap awal bulan. Antrian santri untuk mendapatkan paket menu nasi kuning dan daging ayam paling laris manis. Inginnya kelas cepat selesai dan langsung berlari ke ruang makan asrama, soalnya takut kehabisan.

Kedua, saat bulan Ramadhan. Entah kenapa saat bulan Ramadhan makanan di asrama serasa melimpah dan banyak menu masakan lebih bervariasi. Dan tentunya yang bikin kangen adalah menu ta’jilnya, sebangsa kolak dan es buah yang sulit dilupakan.  

Begitulah, makanan tidak sekadar pemenuh rasa lapar perut saja, tapi ada juga nilai dan makna juga kenangan dari sebuah hidangan.

#Harike4

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian

Advertisements

Olahan 3

2 Dec

Hari ke-3 tantangan di weekend minggu pertama bulan Desember. Alangkah senangnya bukan bertemu kembali hari libur. Tapi tidak denganku, tidak ada hari libur yang pasti untuk seorang dengan profesi perawat sepertiku. Seperti hari ini, aku kebagian shift siang. Meskipun jam shift siang di tempatku bekerja saat ini lebih pendek dibanding shift pagi dan shift malam, namun tetap saja terasa capek dan kadang hectic juga kalau banyak pasien. Pasalnya, petugas jaga di waktu-waktu ini hanya 2 orang perawat, dan kami harus stand by untuk UGD dan juga unit rawat inap sekaligus. Dokter jaga di shift siang kadang-kadang ada tapi tidak selalu, apalagi pas jaga malam jangan berharap ada dokter jaga di Puskesmas.

***

Sebelum berbagi resep ke-3, aku mau sedikit mengevaluasi masakanku kemarin :

  • Rasa masakanku kurang tegas, asin terlalu dominan, manis juga terlalu dominan (kemarin ga sengaja numpahin gula pasir ke masakan, jadi ya kebanyakan), juga ada rasa pedasnya yang tidak mau kalah eksis. Jadi pas dimakan dilidah rasanya nano-nano ga jelas.

  • Kelemahan memasakku yang masih nampak adalah soal rasa yang belum dapat dikatakan pas dan enak.

  • Selepas makan malam, kebetulan masakan bersisa dan aku berpikir bisa dimakan untuk esok paginya. Namun, sayangnya aku lupa menyimpan di lemari es (gegara ketiduran). Alhasil, pagi-pagi makanan udah sedikit basi. Catatan penting : jangan lupa cara penyimpanan makanan supaya tidak cepat basi.

  • Porsi makanan harus sesuai dengan jumlah orang dan jumlah waktu makan supaya tidak mubazir.

  • Cara penyajian makanan kurang menarik (harus belajar menata hidangan).

Pelajaran yang bisa diambil :

  • Terus belajar dan jangan pernah takut gagal untuk mencoba dan mengeksplorasi makanan.

  • Tetap fokus.

  • Jangan lupa berbagi (perlu ada orang lain untuk mencicipi makanan supaya penilaian lebih objektif).

  • Cari ide dan inspirasi masakan dari berbagai sumber.

***

Yuk, lanjut ke *resep ketiga. Here it is!

Bahan-bahan :

Labu siam, tahu dadu kering (bisa didapat di pasar tradisional di penjual kebutuhan bakso, dan lain-lain), telur puyuh, bawang merah, bawang putih, daun bawang, minyak goreng, bumbu penyedap rasa (aku pake R*yc* rasa ayam), air matang.

Cara memasak :

  • Labu siam dipotong dadu kemudian dicuci, setelah itu direbus sampai matang (tapi jangan terlalu matang). Kemudian angkat dan tiriskan.

  • Telur puyuh dicuci, kemudian direbus sampai matang. Setelah itu kulitnya dikupas dan dibuang.

  • Bawang merah, bawang putih, dan daun bawang diiris sesuai keinginan.

  • Siapkan minyak goreng secukupnya untuk menumis bawang merah dan bawang putih. Lalu masukkan telur puyuh yang telah dikupas. Setelah baunya harum, masukkan air matang sesuai kebutuhan (bagi yang suka pedas dapat menambahkan irisan cabe rawit ke dalamnya). Lalu masukkan telur puyuh mentah, kemudian aduk hingga tercampur.

  • Masukkan tahu dadu kering, labu siam yang telah direbus, dan terakhir daun bawang. Tambahkan bumbu penyedap rasa sesuai selera. Aduk hingga merata dan bumbu meresap.

  • Angkat dan sajikan saat hangat bersama nasi putih.

Mudah dan praktis bukan? Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

.

#Harike3

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian